“Langkah Sunyi Menuju Puncak”, Kisah Ketekunan Ketua PWI Pusat Menginspirasi Generasi Wartawan

https://batara.news/wp-content/uploads/2026/03/

SURABAYA – Batara.news || Di balik gemerlap dunia jurnalistik nasional dan hiruk-pikuk kepemimpinan organisasi pers, tersimpan kisah sunyi penuh perjuangan. Narasi itu terangkum dalam buku biografi “Langkah Sunyi Menuju Puncak” yang mengisahkan perjalanan hidup Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir.

Bedah buku yang digelar di Dyandra Convention Center, Kamis (16/04), menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Pers Nasional sekaligus HUT ke-80 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Kegiatan ini berlangsung hangat, menghadirkan jurnalis senior, akademisi, hingga tokoh publik lintas sektor.

Moderator diskusi, Lutfil Hakim, menekankan bahwa perjalanan Munir bukan sekadar kisah karier, melainkan bukti nyata bahwa wartawan daerah mampu menembus panggung nasional.

“Ini bukan perjalanan biasa. Ini bukti bahwa dari daerah pun bisa lahir sosok ‘macan wartawan’ yang diperhitungkan di tingkat nasional,” ujarnya.

Penulis buku, Abdul Hakim, mengungkapkan bahwa karya tersebut lahir dari riset mendalam dan serangkaian wawancara intensif. Ia menyoroti latar belakang Munir yang sederhana—dibesarkan oleh seorang ibu penjahit—namun mampu menapaki tangga kesuksesan dengan ketekunan luar biasa.

Dalam kesempatan itu, Munir mengisahkan sendiri perjalanan hidupnya yang dimulai dari bawah, saat menjadi pembantu kontributor di Sumenep, Madura, hingga akhirnya dipercaya memimpin PWI Pusat dan menjabat Direktur Utama LKBN Antara.

“Kesuksesan saya tidak instan. Semua dimulai dari nol, dengan langkah sunyi yang penuh perjuangan,” tuturnya.

Kekuatan Doa Ibu dan Jalan Ketekunan

Momen paling menyentuh terjadi saat Munir mengenang masa kuliahnya di Universitas Jember. Di semester tujuh, ia nyaris tak mampu melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya.

Dari titik itulah, ia mulai menulis di berbagai media untuk mendapatkan honor, demi membiayai kuliah sekaligus membantu keluarga.

“Sejak saat itu, saya bertekad memuliakan ibu. Semua capaian saya tak lepas dari doa beliau,” ucapnya dengan nada emosional.

Munir pun membagikan tiga kunci utama kesuksesan kepada generasi muda: ketekunan dalam proses, integritas dalam bertindak, serta etika sebagai fondasi profesionalisme.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, Suko Widodo, memberikan catatan reflektif. Ia menyoroti menurunnya minat mahasiswa terhadap profesi wartawan.

“Dari 150 mahasiswa, mungkin hanya lima yang ingin menjadi jurnalis,” ungkapnya.

Meski demikian, ia optimistis buku ini dapat menjadi pemantik semangat baru.

Sementara itu, tokoh media Himawan menilai bahwa kedekatan Munir dengan sang ibu menjadi fondasi spiritual yang kuat dalam perjalanan hidupnya. Ia berharap buku ini mampu menjadi inspirasi bagi puluhan ribu anggota PWI di seluruh Indonesia untuk tetap berpegang pada nilai-nilai luhur profesi.

Acara ditutup dengan penyerahan simbolis buku dari Akhmad Munir kepada Cahyono, sebagai simbol regenerasi kepemimpinan dan estafet semangat jurnalistik yang terus menyala.

Lebih dari sekadar biografi, “Langkah Sunyi Menuju Puncak” menjadi cermin bahwa kesuksesan sejati lahir dari kerja keras dalam diam, keteguhan prinsip, serta doa yang tak pernah putus.

/Ali S