Baru 5 Hari Test Drive, Truk Bantuan KDKMP Tersiring di Baureno: Alarm Keras untuk Kompetensi Driver dan Sistem Perawatan

https://batara.news/wp-content/uploads/2026/03/

BOJONEGORO —Batara.news||

Insiden tersiringnya kecelakaan truk operasional yang baru diserahkan oleh Kodim 0813 Bojonegoro di ruas jalan Desa Sraturejo, Kecamatan Baureno, jum’at(3/4/2026), bukan sekadar kecelakaan biasa.

Peristiwa ini justru menjadi tamparan telak terhadap dua hal mendasar: kompetensi pengemudi dan kesiapan sistem perawatan (maintenance).

Bagaimana mungkin kendaraan yang bahkan belum genap sepekan menjalani test drive sudah mengalami insiden hingga tersiring?

Dalam standar operasional yang wajar, masa uji coba trayel justru menjadi fase paling ketat dalam pengawasan—baik dari sisi teknis kendaraan maupun kemampuan pengemudi dalam menguasai unit.

Jika penyebabnya adalah human error, maka ini membuka pertanyaan serius: apakah pengemudi benar-benar memiliki kualifikasi dan pelatihan yang memadai untuk mengoperasikan kendaraan tersebut?

Mengemudikan truk operasional bukan perkara biasa—dibutuhkan pemahaman karakter kendaraan, distribusi beban, serta respons di berbagai kondisi jalan.

Namun jika masalahnya terletak pada faktor teknis, maka aspek maintenance patut dipertanyakan.

Apakah kendaraan telah melalui inspeksi menyeluruh sebelum dilepas ke tahap uji coba? Apakah ada checklist kelayakan jalan (roadworthiness) yang benar-benar dijalankan, atau sekadar formalitas?

Lebih jauh, insiden ini mengindikasikan lemahnya sistem kontrol internal.

Test drive seharusnya tidak hanya menjadi simbol seremonial pasca penyerahan, melainkan proses evaluasi serius yang melibatkan standar keselamatan tinggi.

Warga pun menyoroti kejadian ini sebagai bentuk kelalaian yang tidak bisa dianggap sepele.

Pasalnya, kendaraan operasional semestinya menjadi penunjang kegiatan, bukan justru menimbulkan risiko baru di lapangan.

Hingga kini belum ada keterangan resmi terkait penyebab pasti kecelakaan.

Namun satu hal yang jelas: kejadian ini harus menjadi momentum evaluasi total—bukan hanya pada kendaraan, tetapi juga pada manusia yang mengoperasikannya serta sistem yang mengawasinya.

Jika tidak, maka “test drive” hanya akan menjadi formalitas tanpa makna—dan potensi kecelakaan serupa tinggal menunggu waktu.

Penulis:Alisugiono.