BOJONEGORO — Batara.news ||Di tengah suasana Ramadhan yang sarat makna spiritual, ruang Cafe and Resto Hotel MCM Bojonegoro berubah menjadi tempat pertemuan hangat antara wakil rakyat dan para pewarta.
Legislator dan insan pers duduk berdampingan dalam Forum Silaturahmi Ramadan DPRD bersama insan media, sebuah agenda yang bukan sekadar temu formal, melainkan ruang memperkuat relasi antara lembaga legislatif dan pengawal arus informasi publik.Senin(16/3/2026)
Nuansa religius berpadu dengan suasana santai khas kafe. Para undangan tampak duduk di atas bantal warna-warni yang tersusun melingkar, menciptakan atmosfer akrab dan cair.
Percakapan ringan mengalir di sela rangkaian acara, menghadirkan kesan bahwa komunikasi antara DPRD dan media tak selalu harus berlangsung di balik meja rapat yang kaku.
Dalam sambutannya,Abdulloh Umar Ketua DPRD Bojonegoro menyampaikan bahwa momentum Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat jalinan komunikasi sekaligus membangun sinergi yang lebih sehat antara lembaga legislatif dan insan pers.
“Bulan suci Ramadhan ini menjadi kesempatan yang baik bagi kita semua untuk memperkuat silaturahmi. DPRD Kabupaten Bojonegoro dan insan pers diharapkan terus saling menggandeng untuk membangun kolaborasi yang semakin baik,” ujarnya di hadapan para undangan.
Ia menegaskan bahwa insan pers memiliki peran strategis sebagai mitra dalam menyampaikan informasi yang objektif, edukatif, sekaligus membangun kesadaran publik.
Dalam konteks pemerintahan daerah, relasi yang sehat antara legislatif dan media menjadi elemen penting dalam menjaga transparansi serta memastikan masyarakat memperoleh informasi yang utuh.
“Semoga melalui kegiatan silaturahmi ini terjalin hubungan yang semakin baik, kolaboratif, dan produktif demi kemajuan Kabupaten Bojonegoro yang kita cintai bersama,” tambahnya.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai kebangsaan, acara kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Seluruh hadirin berdiri khidmat, menghadirkan suasana reflektif yang memadukan semangat nasionalisme dengan nilai spiritual Ramadhan.
Namun forum tersebut tidak berhenti pada dialog kelembagaan semata. Kegiatan juga diperkaya dengan tausiyah yang disampaikan oleh ulama kharismatik KH Ridwan Hambali, yang mengajak para hadirin merenungi kemuliaan sepuluh malam terakhir Ramadan.
Dalam ceramahnya, ia mengingatkan bahwa pada fase akhir Ramadhan terdapat malam yang memiliki nilai ibadah melampaui perjalanan hidup manusia, yakni Lailatul Qadar.
Menurutnya, jika seribu bulan dikonversikan ke dalam hitungan tahun, maka nilainya setara dengan sekitar 83 tahun lebih empat bulan.
“Kalau dihitung, seribu bulan itu sekitar 83 tahun lebih empat bulan. Maka satu malam Lailatul Qadar itu nilainya bisa melebihi ibadah selama puluhan tahun tanpa adanya Lailatul Qadar,” ungkap Alumnus Karo Mesir ini..
Ridwan Hambali juga menjelaskan beberapa tanda yang kerap disebut dalam berbagai riwayat mengenai malam yang penuh kemuliaan tersebut.
Di antaranya suasana malam yang terasa tenang dan sejuk, tidak terlalu panas maupun terlalu dingin, serta angin yang berhembus lembut tanpa hujan atau mendung berat.
Pada pagi harinya, kata dia, matahari terbit dengan cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan.
“Udara terasa tenang, tidak panas, tidak terlalu dingin, anginnya lembut. Pagi harinya matahari terbit seolah malu-malu, tidak menyengat. Itu salah satu tanda yang sering disebutkan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa umat Islam dianjurkan mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.
Selain itu, Ridwan Hambali mengajak umat untuk terus berdoa agar diberi kesempatan kembali bertemu Ramadhan pada tahun berikutnya. Ia mencontohkan doa yang telah diajarkan dalam tradisi para ulama sejak masa Nabi Muhammad.
“Sejak bulan Rajab Nabi sudah berdoa: Allohumma barik lana fi Rojaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhona �
/Ali S












