Jalan Rusak Ditanami P...

Jalan Rusak Ditanami Pisang, Protes Sunyi Warga Genjor yang Menggema Di awal tahun

Ukuran Teks:

BOJONEGOROBatara.news

Ketika laporan, keluhan, dan harapan tak kunjung berbuah kebijakan, warga Dusun Kukur, Desa Genjor, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, memilih berbicara dengan bahasa yang paling sederhana: simbol.

Pada Jumat (16/1/2026),

sejumlah pemuda menanam pohon pisang tepat di badan jalan desa yang bertahun-tahun rusak parah. Jalan berlumpur, penuh lubang, dan nyaris kehilangan fungsinya itu kini berubah rupa—menjadi “kebun pisang”—sebuah ironi yang menyentil nurani.

Aksi tersebut bukan sekadar guyonan atau keisengan anak muda. Ia lahir dari akumulasi kekecewaan panjang atas infrastruktur dasar yang seolah luput dari perhatian pemerintah.

Lubang-lubang jalan yang menganga, tergenang air, dan membahayakan pengguna, kini dijadikan medium kritik yang tak terbantahkan.

Video penanaman pisang itu pun cepat beredar di media sosial. Disertai narasi satir berbahasa Jawa, “Iciri gedang wae ratane, ra usah demo-demo,” pesan itu menggema: ketika suara tak didengar, simbol dipilih untuk berbicara.

Bagi warga Dusun Kukur, jalan desa bukan sekadar lintasan. Ia adalah urat nadi ekonomi dan sosial. Setiap hari petani mengangkut hasil panen, pedagang menjalankan roda usaha, dan anak-anak berangkat sekolah dengan risiko tergelincir dan terjatuh—terutama saat musim hujan menjadikan lumpur sebagai jebakan.

“Kalau memang dibiarkan terus, lebih pantas disebut kebun daripada jalan,” ujar seorang warga, getir.

Pohon pisang yang ditanam menjadi penanda: jalan itu seolah telah “dipensiunkan” dari fungsinya.

Protes ini sunyi, tanpa teriakan dan spanduk, namun justru bersuara lantang—menuntut kehadiran negara di desa.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Genjor, Amak, belum memberikan keterangan resmi terkait aksi warga maupun kepastian rencana perbaikan jalan.

Sementara itu, harapan warga menggantung pada respons Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan Dinas Pekerjaan Umum.

Warga berharap, viralnya aksi ini tidak berhenti sebagai konsumsi media sosial. Lebih dari itu, ia diharapkan menjadi alarm keras bahwa di balik jalan rusak dan pohon pisang yang tertanam, ada hak dasar warga desa yang terlalu lama terabaikan: akses jalan yang layak, aman, dan bermartabat.

 

Penulis:Alisugiono.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan