Perkumpulan masyarakat Brandal Komprang (Brako) Nusantara mendatangi Stasiun Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (15/1/2026), guna menyampaikan keberatan atas pemberitaan yang dinilai menyinggung perasaan keluarga korban dan Brako kecelakaan kereta api di wilayah Baureno.
Belasan orang massa Brako Nusantara datang untuk meminta klarifikasi terkait pernyataan yang dinisbatkan kepada pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengenai pemberian santunan kepada korban meninggal dunia akibat terserempet kereta api.
Dalam salah satu pemberitaan media, disebutkan istilah “komo-komo” yang dianggap tidak pantas dan menyinggung, karena di wilayah Bojonegoro istilah tersebut bermakna pemberian kepada pengemis.
Perwakilan Brako Nusantara, Lulus Setiawan, menyampaikan bahwa pihaknya merasa tersinggung atas penggunaan istilah tersebut, terlebih karena dikaitkan dengan musibah yang menimpa korban dan keluarganya.
“Ada pemberitaan yang menuliskan kata komo-komo. Di Bojonegoro, istilah itu tidak pantas dan melukai perasaan keluarga korban,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, perwakilan PT KAI Bojonegoro menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menyampaikan pernyataan sebagaimana yang dimuat dalam pemberitaan dimaksud, termasuk penggunaan istilah “komo-komo”.
Sementara itu, Ahmad Yusuf, Kepala Bidang Pengembangan pada Dinas Perhubungan Kabupaten Bojonegoro, yang namanya disebut-sebut dalam pemberitaan, juga memberikan klarifikasi. Ia menegaskan tidak pernah melontarkan pernyataan sebagaimana yang ditulis media.
“Di awal berita yang saya baca, tertulis pihak KAI memberikan santunan. Setelah saya konfirmasi ke KAI, tidak ada yang bernama Yusuf,” jelas Yusuf.
Ia menambahkan bahwa dirinya sangat mengenal almarhum dan membantah keras telah mengucapkan pernyataan yang dimuat media, termasuk istilah “komo-komo”.
“Saya tidak pernah mengucapkan kata-kata itu. Bahkan kata komo-komo saja saya belum pernah membacanya sebelumnya,” tegasnya.
Dalam dialog tersebut, salah satu perwakilan Brako kembali menegaskan kepada Yusuf untuk memastikan apakah benar dirinya tidak pernah mengucapkan pernyataan tersebut. Yusuf kembali menegaskan bahwa ia sama sekali tidak pernah menyampaikannya.
Atas kesepakatan bersama, wartawan yang menulis berita tersebut kemudian dihubungi melalui sambungan telepon untuk dimintai klarifikasi. Namun, hingga beberapa kali dihubungi, wartawan yang bersangkutan tidak memberikan respons.
Yusuf juga mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah dihubungi, baik melalui pesan singkat maupun telepon, oleh wartawan tersebut sebelum berita diterbitkan.
Situasi sempat memanas ketika wartawan tidak kunjung dapat dihubungi.
Di tengah situasi tersebut, Kasat Intelkam Polres Bojonegoro, I Putu Suryawan Astawa, yang hadir di lokasi, memberikan imbauan agar semua pihak tetap menahan diri.
“Di sini kita mencari solusi. Kita minta suasana tetap kondusif dan tidak ada tindakan anarkis. Kalau permasalahan seperti ini mencuat dan berlarut-larut, investor bisa enggan masuk ke Bojonegoro. Akhirnya masyarakat juga yang dirugikan,” ujarnya.
Imbauan tersebut membuat suasana yang sempat tegang kembali mereda.
Yusuf kemudian menunjukkan tangkapan layar pesan WhatsApp dari wartawan penulis namanya, dalam rangkaian layar itu tertulis seorang bernama Kerno, yang dalam gambar tersebut tercantum jabatan Kepala Bidang Pengembangan Transportasi Umum.
Dalam pesan itu, disebutkan bahwa pernyataannya akan ditulis menggunakan nama Yusuf, namun hal tersebut telah ia tolak.
Sekitar pukul 10.18 WIB, Luki, Ketua Brako Nusantara, menyampaikan bahwa kedatangan pihaknya bertujuan untuk klarifikasi secara kekeluargaan dan berharap persoalan ini dapat segera diselesaikan.
“Kami datang untuk klarifikasi secara baik-baik. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran agar ke depan tidak mudah mengeluarkan statemen yang bisa memicu kegaduhan,” ujarnya.
/red
