BALI — Batara.news ||
Di Bali, pulau yang sejak lama dikenal sebagai Pulau Dewata, keindahan tidak hanya hadir dari laut biru, hamparan sawah hijau, atau pura-pura yang berdiri anggun di kaki gunung.
Keindahan yang sesungguhnya justru hidup dalam cara masyarakatnya merawat perbedaan—dengan hati yang lapang dan sikap yang penuh penghormatan.
Tahun ini, pulau itu kembali menuliskan kisah kedamaian yang menyejukkan. Dua hari suci datang hampir bersamaan: perayaan Hari Raya Nyepi pada 19 Maret dan Hari Raya Idul Fitri pada 20 Maret.
Minggu (15/3/2026), suasana Bali terasa berbeda. Bukan karena keramaian, melainkan karena ketenangan yang perlahan menyelimuti kehidupan masyarakatnya.
Di halaman-halaman pura, umat Hindu menyiapkan rangkaian upacara dengan khidmat. Doa-doa dirangkai dalam sunyi, menyambut Nyepi—hari ketika alam dan manusia diajak berhenti sejenak, menundukkan ego, dan menyucikan diri.
Di sisi lain pulau, umat Muslim juga menata hati menjelang Idul Fitri. Setelah perjalanan panjang menjalani ibadah puasa Ramadan, mereka bersiap menyambut hari kemenangan—hari ketika manusia kembali pada fitrahnya dengan hati yang bersih.
Namun yang membuat Bali terasa begitu istimewa bukan sekadar dua perayaan itu. Melainkan cara masyarakatnya menjaga satu sama lain.
Ketika satu umat bersiap menjalankan ibadah, umat lainnya menjaga ketenangan. Ketika satu merayakan hari suci, yang lain memberi ruang dengan penuh kesadaran. Tidak ada sekat yang terasa—yang ada hanyalah rasa saling memahami.
Seperti dua nada yang berbeda, tetapi berpadu menjadi harmoni yang menenangkan jiwa.
Di tengah suasana yang syahdu itu, anggota DPRD Bali, I Wayan Puspa Negara, menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga keharmonisan di tengah momentum dua hari raya besar tersebut.
Ia mengatakan, kedekatan waktu antara Nyepi dan Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai semangat bersama untuk menciptakan kedamaian.
“Nyepi adalah tradisi yang unik, magis, dan eksotis. Mari kita hormati pelaksanaannya di Bali tanpa gangguan dari mana pun. Berikan penghormatan kepada Bali untuk melaksanakan penyucian diri manusia dan alam semesta melalui keheningan mutlak,” ungkapnya.
Menurutnya, keheningan Nyepi menjadi momentum penting untuk meningkatkan kedamaian dan keseimbangan hidup bersama.
Sementara itu, ia juga menegaskan bahwa perayaan Idul Fitri tetap harus diberikan ruang yang sepadan bagi umat Muslim untuk merayakannya.
“Idul Fitri adalah momen kembali ke fitrah, kembali pada kesucian. Perayaan ini menjadi waktu untuk bersyukur, bersilaturahmi, dan saling memaafkan. Semua itu dapat berjalan selaras tanpa mengganggu kemutlakan keheningan Nyepi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kedekatan dua hari raya ini bukan sekadar kebetulan kalender, tetapi menjadi pengingat bahwa toleransi adalah kekuatan yang menjaga Bali tetap damai.
“Perbedaan bukanlah sesuatu yang memisahkan kita. Justru di sanalah keindahan hidup bermasyarakat,” katanya.
Menurutnya, masyarakat Bali telah lama hidup dalam budaya saling menghormati.
Nilai-nilai itu tumbuh dari kebiasaan sederhana—memberi ruang bagi orang lain untuk beribadah, menjaga ketenangan ketika saudara menjalankan ritualnya, serta merawat persaudaraan tanpa memandang perbedaan keyakinan.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga suasana kondusif selama rangkaian perayaan berlangsung, agar setiap doa dapat terucap dengan khusyuk dan setiap ibadah berjalan dalam rasa aman.
“Ketika saudara kita beribadah, kita jaga suasananya. Dari situlah lahir ketenangan, persaudaraan, dan kedamaian,” tuturnya.
Di tengah dunia yang sering gaduh oleh perbedaan, Bali justru menghadirkan pelajaran sederhana namun dalam: bahwa keberagaman tidak harus melahirkan jarak.
Ia justru dapat menjadi jembatan yang mempererat manusia.
Bagi banyak warga, berdekatan nya dua hari raya ini bukan sekadar pertemuan tanggal dalam kalender. Ia adalah pengingat bahwa kedamaian dapat tumbuh dari hati yang mau memahami.
Dan di Pulau Dewata ini, toleransi tidak hanya menjadi kata-kata.
Ia hidup.
Ia dirawat.
Ia mengalir seperti angin laut yang lembut—menjaga Bali tetap teduh, damai, dan mempesona bagi siapa pun yang datang.
Penulis: Alisugiono — Batara.news












