BOJONEGORO – Tanpa pengumuman besar. Tanpa peringatan mencolok. Tiba-tiba saja harga paket internet bulanan melonjak dan membuat pelanggan terkejut.
Sejumlah warga di Bojonegoro mengaku kaget saat membuka aplikasi operator dan mendapati tarif paket data berubah dibanding beberapa hari sebelumnya.
Paket yang biasanya dibeli dengan harga lebih ramah di kantong, kini merangkak naik — bahkan pada beberapa pilihan kuota, kenaikannya tergolong signifikan.
Pantauan pada aplikasi salah satu operator besar, Telkomsel, menunjukkan paket 7 GB untuk 30 hari kini berada di kisaran Rp38 ribuan, 11 GB sekitar Rp45 ribuan, 33 GB menyentuh Rp75 ribu, hingga 65 GB hampir Rp100 ribu.
Kenaikan serupa juga dikeluhkan pelanggan operator lain seperti Indosat Ooredoo Hutchison, XL Axiata, dan Tri Indonesia. Nominalnya berbeda, namun polanya sama: harga naik.
“Baru minggu lalu beli lebih murah. Sekarang buka aplikasi, harganya sudah beda,” keluh seorang pelanggan.
Hal serupa disampaikan Al, salah satu warga. Ia mengaku sempat kebingungan saat paket 20 GB yang dibelinya tidak aktif ketika digunakan.
“Awalnya saya kira gangguan jaringan. Tapi setelah dibelikan paket baru, langsung aktif — dan harganya ternyata sudah naik,” ujarnya.
Kenaikan Serentak, Kebetulan atau Pola?
Pertanyaannya, mengapa kenaikan terjadi hampir bersamaan? Apakah ini sekadar penyesuaian bisnis biasa, atau ada tren baru dalam industri telekomunikasi nasional?
Di tengah kondisi ekonomi yang masih menekan daya beli masyarakat, internet bukan lagi kebutuhan sekunder. Ia telah berubah menjadi kebutuhan pokok — untuk sekolah daring, pekerjaan, transaksi digital, hingga komunikasi sehari-hari.
Kenaikan harga yang terjadi tanpa sosialisasi masif membuat sebagian pelanggan merasa “ditinggalkan”. Tidak sedikit yang mulai membandingkan tarif antaroperator, berburu promo tersembunyi, bahkan mempertimbangkan untuk berpindah layanan.
Hingga Jumat (27/2/2026), belum ada penjelasan rinci yang disampaikan secara terbuka terkait alasan penyesuaian harga tersebut.
Satu hal yang pasti: pelanggan kini tidak sekadar membeli kuota. Mereka membeli akses ke kehidupan digital. Dan ketika harganya melonjak diam-diam, rasa “kaget” berubah menjadi tanda tanya besar.
Penulis: Alisugiono











