Portal Jembatan TBB Dipasang, Warga dan Sopir Pertanyakan Perencanaan Awal

Bojonegoro —Batara.news||

Wakil Bupati Bojonegoro menyebut pemasangan portal di Jembatan TBB dilakukan demi menjaga kekuatan konstruksi. Kendaraan yang melintas dinilai melebihi batas tonase yang diperbolehkan.

Kebijakan tersebut, menurutnya, merupakan hasil masukan warga sekitar dan telah dibahas dalam forum rapat lalu lintas.

“Pertimbangannya adalah kekuatan jembatan. Kendaraan yang melintas saat ini melebihi tonase yang diperbolehkan. Ini juga merupakan masukan dari warga sekitar jembatan dan sudah dibahas serta disepakati dalam forum rapat lalu lintas untuk dipasang portal,” jelasnya.

Namun di balik alasan teknis tersebut, muncul pertanyaan publik yang tak bisa diabaikan. Jika sejak awal jembatan dibangun menggunakan anggaran besar, apakah aspek kualitas dan kuantitas konstruksi tidak dihitung secara matang?

Apakah perencanaan teknis sudah mempertimbangkan beban kendaraan riil di lapangan, atau hanya berdasar asumsi administratif semata?

Sejumlah sopir truk mengaku terdampak langsung kebijakan tersebut. Mereka harus memutar balik kendaraan karena terhalang portal, yang berujung pada pemborosan bahan bakar dan waktu tempuh yang lebih panjang.

“Kalau harus putar balik, solar habis, waktu molor. Kami yang dirugikan,” ujar salah satu sopir yang rutin melintas di jalur tersebut.

Kebijakan ini pun memunculkan persepsi di tengah masyarakat: apakah pembangunan jembatan lebih menitikberatkan pada estetika dan simbol infrastruktur semata, tanpa memperhitungkan kebutuhan fungsional jangka panjang?

Jika tonase kendaraan di wilayah itu memang tinggi sejak awal, mengapa spesifikasi jembatan tidak disesuaikan?

Portal memang bisa menjadi solusi jangka pendek untuk menjaga struktur tetap aman. Namun secara substansi, publik menanti kejelasan: apakah ini bentuk pengamanan konstruksi, atau justru koreksi atas perencanaan yang kurang matang?

Transparansi kajian teknis, detail perhitungan daya dukung, serta evaluasi perencanaan awal menjadi penting untuk menjawab kegelisahan warga dan para pelaku transportasi. Sebab infrastruktur bukan hanya soal berdiri megah, tetapi juga tentang kebermanfaatan dan keberlanjutan.

/Ali S