Menyambung Lidah Rakyat: Di Gedung Tua PEPABRI, Aspirasi Menemukan Jalannya

Menyambung Lidah Rakyat: Di Gedung Tua PEPABRI, Aspirasi Menemukan Jalannya

 

Bojonegoro,–Batara.news||

Jumat pagi itu, 6 Februari 2026, Gedung PEPABRI Bojonegoro tak sekadar menjadi bangunan tua yang menyimpan kenangan masa lalu. Ia berubah menjadi ruang dengar—tempat suara-suara kecil yang sering terpinggirkan menemukan gema.

Di sanalah Sigit Kushariyanto, Anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro dari Fraksi Partai Golkar, duduk sejajar dengan warga. Bukan di atas podium kekuasaan, melainkan di antara keluh kesah, harapan, dan kecemasan masyarakat yang hidup di tepian kebijakan.

Reses Masa Sidang I Tahun 2026 itu menjelma lebih dari kewajiban konstitusional. Ia menjadi upaya menyambung lidah rakyat—agar suara dari Kauman, Ledok Kulon, Jetak, dan desa-desa sekitar tidak lenyap di lorong birokrasi.

Dari bibir sungai, cerita pertama mengalir. Abrasi. Tanah yang perlahan runtuh, rumah yang setiap musim hujan hidup dalam cemas. Warga Kauman dan Ledok Kulon bercerita tentang bantaran sungai yang kian rapuh, tentang malam-malam panjang menunggu air tidak meluap.

“Yang sudah diusulkan memang sebagian terealisasi,” ujar Sigit pelan namun tegas. “Tapi pengawalan tidak boleh berhenti. Sungai tidak menunggu keputusan rapat.”

Dari sungai, percakapan merambat ke jalan lingkungan dan drainase. Saluran air yang tersumbat bukan hanya soal estetika, tetapi sumber penyakit, sumber ketidaknyamanan hidup sehari-hari.

Di Ledok, warga menyampaikan bahwa genangan air sering kali menjadi saksi abainya sistem.

Namun suasana berubah lirih ketika pembicaraan menyentuh para lansia.

Program kesehatan yang dulu rutin—pemeriksaan, pendampingan, makanan bergizi—kini tinggal kenangan. Mereka yang telah menghabiskan usia untuk desa, kini perlahan terlupakan.

“Kita bicara SDM unggul, tapi lupa pada yang telah lebih dulu mengabdi,” kata Sigit. “Pelayanan lansia harus hidup kembali. Ini bukan belas kasihan, ini penghormatan.”

Dari usia senja, reses beranjak ke ladang. Petani kembali mengeluhkan cerita lama yang tak kunjung usai: panen raya, harga gabah jatuh.

Keringat tak sebanding dengan hasil. Sawah hijau, tapi dapur tetap sepi.

Sigit mengingatkan, negara tak boleh datang hanya saat tanam, lalu menghilang saat panen. Stabilitas harga adalah bentuk kehadiran paling nyata.

Tak hanya itu. Mesin combine, alat panen modern, menjadi harapan agar kerja lebih efisien, biaya lebih ringan, dan waktu panen tak lagi menjadi beban.

“Bukan hanya harga,” ujarnya, “tapi juga alat, air, dan kepastian pasca panen. Petani butuh keberlanjutan, bukan janji.”

Menjelang akhir pertemuan, satu hal ditegaskan: aspirasi ini tidak akan berhenti di ruangan itu. Dari Gedung PEPABRI, suara rakyat akan dibawa ke meja fraksi, ke ruang paripurna, ke hadapan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Reses hari itu menegaskan satu pesan sederhana namun penting:

bahwa demokrasi bukan hanya soal memilih, tetapi tentang didengar.

Dan di tengah riuh politik yang sering melupakan pinggiran, setidaknya hari itu—lidah rakyat tidak bisu.

Penulis:Alisugiono.