Teheran — Batara.News | Nilai tukar mata uang Iran, riyal, kembali menjadi sorotan internasional setelah beredar luas perbincangan bahwa kurs riyal Iran terhadap euro berada di angka “0,00”. Meski secara teknis tidak berarti bernilai nol absolut, kondisi tersebut mencerminkan merosotnya kepercayaan pasar global, khususnya di kawasan Eropa, terhadap mata uang Iran.
Anjloknya nilai riyal ini dipicu oleh kombinasi faktor struktural dan geopolitik. Sanksi ekonomi berkepanjangan, keterbatasan akses Iran ke sistem keuangan internasional, inflasi domestik yang tinggi, serta ketidakpastian politik regional menjadi tekanan utama yang terus melemahkan mata uang nasional negara tersebut.
Di pasar internasional, riyal Iran nyaris tidak diperdagangkan secara resmi. Banyak lembaga keuangan dan institusi penukaran di Eropa tidak lagi mencantumkan riyal sebagai mata uang yang dapat dikonversi secara langsung. Akibatnya, dalam sistem tertentu, nilai tukarnya terhadap euro ditampilkan mendekati nol atau tidak signifikan secara nominal, meskipun bukan berarti riyal benar-benar tidak memiliki nilai di dalam negeri Iran.
Para analis menilai kondisi ini lebih mencerminkan isolasi finansial Iran ketimbang sekadar fluktuasi nilai tukar. “Ketika sebuah mata uang tidak lagi dipercaya dan tidak likuid di pasar global, maka nilainya menjadi simbolis saja di luar wilayah negaranya,” ujar seorang pengamat ekonomi internasional.
Bagi masyarakat Iran sendiri, dampak pelemahan riyal sangat terasa. Daya beli terus menurun, harga barang impor melonjak, dan tekanan terhadap ekonomi rumah tangga semakin berat. Pemerintah Iran telah berupaya menstabilkan situasi melalui berbagai kebijakan moneter dan pembatasan devisa, namun hasilnya masih terbatas.
Fenomena riyal Iran yang ‘tak dihargai’ di Eropa ini sekaligus menjadi gambaran keras tentang konsekuensi ekonomi dari konflik geopolitik berkepanjangan dan terputusnya sebuah negara dari sistem keuangan global. (Aaf)
