BOJONEGORO – Batara.news||
Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, Dusun Ngrawan, Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, justru menunjukkan satu hal yang tak lekang oleh zaman: kesetiaan menjaga warisan budaya leluhur.
Jumat (10/04/2026), suasana Dusun Ngrawan berubah menjadi panggung kebudayaan. Tradisi sedekah bumi digelar meriah—bukan sekadar seremoni, melainkan perwujudan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rezeki, keselamatan, dan keberkahan hidup.
Sejak sore hari sebelumnya, denyut acara sudah mulai terasa. Warga tumpah ruah mengikuti rangkaian kegiatan yang dimulai pukul 15.00 WIB, bertempat di ndakon, kemudian berlanjut keesokan paginya di kediaman Kepala Dusun Ngrawan serta di area makam Jedong—sebuah simbol penghormatan kepada leluhur yang telah lebih dahulu menapaki jejak kehidupan di tanah tersebut.
Memasuki siang hari, atmosfer semakin semarak. Alunan seni langgam tayub menggema, berpadu dengan irama karawitan Jawa dari kelompok Setyo Wargo di bawah pimpinan Ki Suparmin dari Desa Cancung, Kecamatan Bubulan.
Harmoni gamelan yang mengalun seakan menghidupkan kembali ruh tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.
Penampilan waranggono, Ny. Yasmi dan Ny. Putri dari Ngasem, turut menyempurnakan suasana. Dengan lenggak-lenggok khas dan tembang-tembang Jawa yang sarat makna, keduanya berhasil memikat perhatian warga.
Sementara itu, kehadiran pramugari seni Ki Gabidi dari Bojonegoro semakin menambah semarak jalannya pertunjukan.
Tak berhenti di situ, kemeriahan berlanjut hingga malam hari. Mulai pukul 22.00 WIB, pentas kembali digelar, menghadirkan nuansa hiburan rakyat yang hangat dan penuh kebersamaan—mengikat tali silaturahmi antarwarga dalam balutan budaya.
Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Dusun Ngrawan, Suprih, bersama seluruh elemen masyarakat. Bertempat di RT 004/RW 001 Desa Ngraseh, kegiatan berlangsung meriah, penuh kekeluargaan, serta sarat nilai gotong royong.
Lebih dari sekadar tradisi tahunan, sedekah bumi di Dusun Ngrawan menjadi bukti nyata bahwa masyarakat desa masih teguh “uri-uri” budaya Jawa.
Pemerintah desa bersama warga bahu-membahu menjaga warisan ini agar tetap hidup, sekaligus menjadi benteng identitas di tengah gempuran budaya modern.
Di balik gemerlap tayub dan denting gamelan, tersimpan pesan yang dalam: bahwa rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur adalah akar yang tak boleh tercerabut.
Dan di Ngrawan, akar itu masih kokoh—menjaga jati diri, menyatukan generasi, serta merawat harmoni kehidupan.
Penulis:Alisugiono.












