Gairahkan Budaya Lokal, Pemdes Sukosewu Hidupkan Kembali Tradisi Jawa Lewat Pewayangan

https://batara.news/wp-content/uploads/2026/03/

Bojonegoro – Batara.news||Pemerintah Desa Sukosewu, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, terus menunjukkan komitmennya dalam menghidupkan kembali budaya lokal. Tak hanya melalui tradisi Sedekah Bumi, berbagai unsur adat Jawa kini mulai kembali digairahkan di tengah masyarakat.

Pagelaran wayang thengul menjadi salah satu langkah nyata. Kegiatan yang digelar di balai desa pada kamis (9/4/2026) ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana edukasi budaya yang sarat nilai moral dan kearifan lokal.

Dalam pagelaran tersebut, dalang Ponidi tampil membawakan lakon penuh makna yang mengangkat nilai kehidupan khas Jawa. Suasana semakin hidup dengan peran pranoto coro Haji Ragil Sujito yang membawakan acara dengan gaya khas, runtut, dan penuh wibawa.

Kemeriahan semakin terasa dengan iringan gending-gending Jawi yang dibawakan oleh waranggono Nyi Sidem dan Nyi Tika, menghadirkan nuansa tradisional yang kuat, menyentuh, sekaligus membius penonton yang hadir.

Lebih dari itu, Pemdes Sukosewu juga mulai mendorong kembalinya tradisi Jawa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari pelaksanaan adat saat khitanan, penggunaan wilangan Jawa, hingga pelestarian bahasa Jawa dalam berbagai kegiatan sosial.

Langkah ini menjadi angin segar di tengah arus modernisasi yang kian deras. Budaya lokal yang sempat meredup kini perlahan kembali hidup, tidak hanya sebagai simbol, tetapi sebagai identitas yang dijaga bersama.

Di tengah gempuran hiburan modern yang kian menggerus jati diri, Desa Sukosewu memilih berdiri melawan arus. Ini bukan sekadar acara, melainkan gerakan nyata: menghidupkan kembali budaya yang hampir dilupakan.

Ini bukan sekadar tontonan. Ini adalah perlawanan terhadap lupa.

Wayang thengul adalah identitas, bukan hiburan biasa. Di dalamnya tersimpan nilai kehidupan, etika, dan filosofi wong Jawa. Namun realitanya, generasi muda mulai menjauh—lebih mengenal budaya luar daripada warisan sendiri.

Sukosewu memberi contoh tegas: budaya tidak cukup dikenang—budaya harus dijalankan. Dari Sedekah Bumi, adat khitanan, hingga penggunaan bahasa dan wilangan Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaannya kini menohok: kita masih bangga jadi wong Jawa, atau hanya sekadar mengaku?

Apa yang dilakukan Sukosewu adalah alarm keras. Jika budaya ini hilang, bukan karena zaman—tetapi karena kita yang membiarkannya.

Sekarang saatnya memilih: ikut menghidupkan, atau jadi generasi yang kehilangan akar.

Penulis: Alisugiono