Sedekah Bumi Kalicilik: Tradisi Panen yang Bukan Sekadar Ritual, Tapi Simbol Persatuan 

https://batara.news/wp-content/uploads/2026/03/

BOJONEGORO — Batara.news||

Desa Kalicilik meledak dalam semangat saat menggelar Sedekah Bumi, ritual tahunan yang memadukan doa, tarian, dan simbol panen. Bukan sekadar seremoni, tradisi ini menjadi panggung persatuan warga dari semua generasi.

Rabu(8/4/2026)

Di tengah alunan Langen Tayub yang memukau, warga tua dan muda duduk berdampingan. Kepala Desa terpilih, Eki Syarifudin Rohmanto, menekankan bahwa Sedekah Bumi adalah simbol harmoni manusia dan alam, sekaligus pengingat bahwa kelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama.

“Ini bukan cuma soal bersyukur atas panen. Ini soal solidaritas, gotong royong, dan menjaga akar budaya kita tetap hidup,” tegas Eki di hadapan ratusan warga yang memadati pusat desa.

Warga lokal, Slamet Riyadi alias Afis, menambahkan, “Melihat seluruh warga berkumpul, menari, berdoa bersama—rasanya bangga! Sedekah Bumi itu seperti denyut nadi desa kita, mengikat semua orang jadi satu.”katanya.

Acara berlangsung meriah: tarian berirama, gamelan bergema, doa khidmat, dan panen simbolis yang membuat seluruh desa merasakan energi kebersamaan. Dari anak-anak hingga tetua, semua terlibat, menyatu dalam satu momen yang tak hanya sakral tapi juga penuh kegembiraan.

Menurut Eki, ritual ini sekaligus menjadi media edukasi budaya bagi generasi muda, agar nilai gotong royong, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam tetap melekat.

Dengan semangat yang sama, warga berharap Sedekah Bumi Kalicilik terus menjadi ikon budaya yang tidak hanya bertahan di desa, tetapi juga menginspirasi desa-desa lain di Jawa Timur untuk merawat tradisi lokal dan menghargai alam.

Fakta menariknya lagi Sedekah Bumi Kalicilik kini bukan hanya ritual panen, tapi ajang kebanggaan warga yang siap viral di media sosial dengan tarian, musik, dan doa yang memukau.

Penulis:Alisugiono.