BOJONEGORO – Batara.news||Menjelang datangnya Idul Fitri, suasana di Kota Bojonegoro benar-benar berubah drastis. Sepanjang Jalan Veteran Bojonegoro mendadak ramai, semrawut, dan penuh warna dengan deretan lapak jasa penukaran uang baru yang tampak mbriah sak dalan-dalan.
Dari kejauhan, deretan mobil dan sepeda motor yang berhenti di bahu jalan dengan spanduk besar bertuliskan “Jasa Penukaran Uang Baru” terlihat berjajar rapat hampir tanpa jeda.kamis(12/3/2026)
Pemandangan ini membuat kawasan tersebut terasa seperti pasar musiman yang mendadak muncul menjelang Lebaran.
Fenomena ini dipicu oleh tradisi masyarakat yang selalu menyiapkan uang pecahan kecil untuk dibagikan kepada anak-anak, keponakan, dan keluarga saat hari raya. Permintaan yang melonjak ini langsung dimanfaatkan sebagian warga sebagai ladang bisnis musiman yang menggiurkan.
Tarif Jasa “Lumayan Pedas”
Namun kemudahan mendapatkan uang baru di pinggir jalan ternyata harus dibayar dengan biaya tambahan yang tidak sedikit.
Berdasarkan pantauan di lapangan, tarif yang dipasang oleh para penyedia jasa antara lain:
Pecahan Rp5.000
Tukar Rp1.000.000 menjadi sekitar Rp1.160.000
(biaya jasa sekitar Rp160.000).
Pecahan Rp10.000
Tukar Rp1.000.000 menjadi sekitar Rp1.150.000
(biaya jasa sekitar Rp150.000).
Artinya, setiap warga yang ingin mendapatkan uang pecahan baru harus rela mengeluarkan biaya jasa hingga 15 persen lebih mahal dari nilai uang yang ditukarkan.
Menjamur di Bahu Jalan
Lapak-lapak penukaran uang ini umumnya menggunakan mobil pribadi yang diparkir di pinggir jalan. Di atas dashboard mobil terlihat tumpukan uang pecahan yang disusun rapi untuk menarik perhatian pengendara yang melintas.
Meski Bank Indonesia sebenarnya menyediakan layanan resmi penukaran uang baru melalui perbankan dan kas keliling, banyak warga memilih jasa pinggir jalan karena dianggap lebih cepat, praktis, dan tanpa antrean panjang.
Diprediksi Makin “Meledak”
Fenomena ini diperkirakan akan semakin membeludak dan ambyar menjelang puncak arus mudik, terutama setelah masyarakat menerima Tunjangan Hari Raya (THR).
Tak heran jika setiap sore hingga malam hari, kawasan Jalan Veteran Bojonegoro berubah menjadi pusat penukaran uang dadakan, dipenuhi kendaraan yang berhenti untuk menukar uang pecahan baru.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin hingga H-1 Lebaran, kawasan tersebut akan semakin mbriah sak dalan-dalan, menjadi salah satu potret unik tradisi ekonomi musiman yang selalu muncul setiap tahun di Bojonegoro.
Penulis: Ali Sugiono (Gion)












