Bojonegoro – Batara.news||
Di balik hamparan perbukitan dan jalan yang membelah hutan jati di Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, berdiri sebuah desa dengan nama yang seketika mengundang rasa penasaran: Desa Malingmati.
Nama yang jika diterjemahkan berarti “Pencuri Mati” itu bukan sekadar sebutan, melainkan warisan kisah lama yang hidup di ingatan masyarakat dari generasi ke generasi.
Desa yang berjarak sekitar 42 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro ini menyimpan legenda yang kerap membuat siapa pun yang mendengarnya tenggelam dalam imajinasi masa lampau—tentang keberanian, kesaktian, dan keadilan seorang pendekar yang konon hidup berabad-abad lalu.
Kepala Desa Malingmati, Karyadi, menuturkan bahwa nama desa tersebut berasal dari cerita para leluhur yang terus diceritakan dari mulut ke mulut oleh para sesepuh desa.
Menurut kisah yang ia dengar sejak kecil, dahulu di wilayah itu hidup seorang pendekar sakti bernama Maling Gentiri. Meski dikenal sebagai seorang pencuri, sosoknya justru dikenang sebagai tokoh yang memiliki hati mulia.
“Cerita orang tua dulu, dia memang mencuri. Tapi bukan untuk memperkaya diri. Hasilnya justru diberikan kepada orang miskin dan orang yang sedang tertimpa kemalangan,” tutur Karyadi.
Di mata masyarakat, Maling Gentiri bukan sekadar pencuri biasa. Ia digambarkan sebagai pendekar dengan kesaktian luar biasa sekaligus jiwa dermawan—sosok yang oleh sebagian orang dianggap seperti “pembela kaum kecil”.
Ketenaran Maling Gentiri rupanya menyebar hingga ke berbagai daerah. Hingga suatu hari, datanglah seorang pencuri lain yang konon memiliki kesaktian setara.
Kedatangannya bukan sekadar singgah, tetapi membawa tantangan yang akhirnya mengubah sejarah desa tersebut.
Pertemuan dua pendekar itu berujung pada sebuah pertarungan yang diceritakan begitu dramatis dalam cerita rakyat setempat.
Sang pencuri pendatang menantang Maling Gentiri dengan penuh kesombongan. Ia bersumpah, jika Gentiri mampu menembus tubuhnya yang bersembunyi di balik batang pohon asem menggunakan sepotong dahan pohon tersebut, maka ia akan meninggalkan tempat itu selamanya.
Namun jika tidak, maka ia yang akan menguasai wilayah tersebut.
Dengan ketenangan seorang pendekar, Maling Gentiri menerima tantangan itu.
Senada dengan mbah Su sesepuh desa Maling mati ia juga menceritakan hal legenda yang sama.
Konon, hanya dengan satu kali lemparan, dahan pohon asem yang dilemparnya melesat tajam, menembus batang pohon besar tempat lawannya bersembunyi. Dalam sekejap, dahan itu mengenai sang pencuri pendatang.
Pertarungan itu berakhir seketika.
Pencuri yang datang menantang itu tewas di tempat.
Sejak saat itulah, masyarakat menamai wilayah tersebut Malingmati—tempat di mana seorang pencuri menemui ajalnya setelah menantang pendekar sakti desa itu.
Hingga kini, jejak kisah tersebut diyakini masih melekat di sebuah pesarean yang berada di desa tersebut. Setiap tahun, warga menggelar sedekah bumi yang diramaikan pertunjukan wayang kulit, sebagai bentuk syukur sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah membuka desa itu.
Namun bukan hanya legenda yang membuat Desa Malingmati dikenal. Ada pula sebuah mitos yang masih dipercaya oleh sebagian warga hingga sekarang.
Konon, siapa pun yang berniat mencuri atau berbuat jahat di wilayah desa itu akan menemui kesialan.
“Entah ini hanya kebetulan atau memang benar adanya,” ujar Karyadi.
Ia bahkan mengingat sebuah peristiwa pada tahun 2019, ketika seorang perampok dari wilayah Kalitidu melarikan diri ke arah Desa Malingmati.
Alih-alih lolos, pelarian itu justru berakhir di desa tersebut—dan sang pelaku akhirnya tertangkap.
Bagi warga setempat, cerita tentang Maling Gentiri bukan sekadar dongeng masa lalu. Ia telah menjadi bagian dari identitas desa, sebuah legenda yang mengajarkan bahwa keberanian dan keadilan akan selalu dikenang, bahkan setelah waktu berlalu begitu lama.
Di Desa Malingmati, kisah itu masih hidup—berhembus bersama angin di antara pepohonan jati, dan diceritakan kembali setiap kali malam panjang di desa mulai sunyi.
Penulis:Alisugiono.(8 maret 2026)












