Gerakan Resapan Dimulai dari Alun-Alun, DLH Bojonegoro Ajak Warga Ikut Bergerak

BOJONEGORO —Batara.news|| Langkah sederhana itu terlihat kecil: satu lubang di tanah. Namun di baliknya, tersimpan harapan besar untuk masa depan lingkungan.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro memulai gerakan pembuatan lubang resapan air di kawasan Alun-Alun Bojonegoro, sebagai tindak lanjut surat edaran pemerintah daerah tentang peningkatan daya serap air dan pencegahan genangan.

Di tengah hamparan ruang publik yang setiap hari dipadati aktivitas warga, para petugas DLH membuat lubang-lubang biopori di sejumlah titik strategis. Bukan sekadar menggali tanah, tetapi menanam kesadaran bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari langkah paling sederhana.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro melalui

Ir. Tuti Prangmiatun, M.M.,Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup menegaskan bahwa kegiatan ini bukan seremonial semata.

“Kami ingin gerakan ini menjadi contoh. Lubang resapan mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama, dampaknya sangat besar.

Ini tentang masa depan air tanah kita, tentang kota yang bebas genangan, dan tentang tanggung jawab bersama menjaga lingkungan.”ungkapnya

Lubang resapan biopori bekerja dengan cara mempercepat masuknya air hujan ke dalam tanah.

Ketika hujan turun deras, air tidak lagi seluruhnya mengalir di permukaan, melainkan meresap, tersimpan, dan memberi manfaat jangka panjang. Bahkan, lubang ini juga dapat diisi sampah organik yang nantinya terurai menjadi kompos alami.

Bayangkan jika setiap kantor, sekolah, rumah ibadah, hingga halaman rumah warga memiliki satu, dua, atau lebih lubang resapan. Bayangkan jika setiap musim hujan, genangan berkurang karena tanah kembali mampu “bernapas”. Bayangkan jika gerakan kecil ini menjadi budaya bersama.

Alun-Alun Bojonegoro kini bukan hanya ruang rekreasi, tetapi juga simbol dimulainya perubahan. Sebuah pesan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan langkah besar dan mahal — cukup dimulai dari kemauan.

DLH Bojonegoro pun mengajak masyarakat untuk tidak berhenti sebagai penonton.

“Mari kita tiru dan terapkan di lingkungan masing-masing. Jika kita bergerak bersama, Bojonegoro akan menjadi daerah yang lebih hijau, lebih tangguh terhadap hujan, dan lebih siap menghadapi perubahan iklim.”

Kini pertanyaannya bukan lagi siapa yang memulai, tetapi siapa yang mau ikut bergerak.

Satu lubang hari ini, bisa menjadi penyelamat esok hari.

 

Penulis:Alisugiono.