Surabaya — Batara.news||
Lautan kuning memenuhi arena Jatim Expo, Minggu (15/2/2026). Ribuan kader berdiri, bersorak, dan mengibarkan atribut partai saat jajaran pengurus DPD II kabupaten/kota se-Jawa Timur resmi dilantik.
Momen ini bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan bahwa Partai Golkar tengah mengencangkan barisan di provinsi paling strategis dalam peta politik nasional.
Sejak pagi, suasana sudah terasa berbeda. Iringan yel-yel kader, tepuk tangan bergemuruh, hingga deretan tokoh nasional dan daerah yang hadir menjadi “energi motorik” yang membakar semangat konsolidasi.
Tampak hadir langsung Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Wihaji, Sekjen Golkar Muhammad Sarmuji, Ketua DPD Golkar Jatim sekaligus Anggota DPR RI Ali Mufti, serta Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfud. Kehadiran para figur ini mempertegas bahwa panggung Jatim bukan panggung biasa.
Dalam pidato yang penuh tekanan dan intonasi tegas, Bahlil menyebut pelantikan serentak 37 DPD II yang dihadiri langsung Ketua Umum sebagai peristiwa bersejarah.
“Belum pernah ada pelantikan DPD II yang dihadiri langsung Ketua Umum DPP sekaligus 37 kabupaten/kota. Jawa Timur ini penuh sejarah. Siapa yang bisa menguasai Jawa Timur, dia akan bisa menciptakan sejarah baru untuk arah masa depan yang lebih baik,” tegas Bahlil.
Kalimat itu langsung disambut gemuruh tepuk tangan. Bagi Golkar, Jawa Timur bukan sekadar basis suara, melainkan episentrum penentu arah politik nasional.
Tak hanya berbicara strategi kekinian, Bahlil juga membawa kader menengok sejarah. Ia mengingatkan bahwa Golkar lahir pada 1965 melalui konsolidasi 97 organisasi lintas elemen bangsa dalam Sekretariat Bersama (Sekber).
Mulai dari buruh, petani, nelayan, unsur TNI-Polri, organisasi keagamaan, kelompok perempuan hingga profesional, berhimpun dalam satu semangat: menjawab krisis bangsa kala itu yang dilanda instabilitas politik dan ekonomi, inflasi tinggi, serta pengangguran.
“Golkar lahir sebagai jawaban atas persoalan bangsa. Golkar milik rakyat, aset bangsa, dengan tujuan kesejahteraan melalui doktrin karya kekaryaan. Golkar harus menjadi rumah bersama, rumah aspirasi kita semua,” ujarnya.
Narasi sejarah itu menjadi penguat identitas sekaligus suntikan ideologis bagi kader di tengah dinamika politik modern.
Suasana memuncak ketika Bahlil secara terbuka menawarkan Emil Dardak untuk merapat ke Golkar. Dengan nada santai namun sarat makna politik, ia menyampaikan ajakan tersebut di hadapan ribuan kader.
“Kalau Pak Emil mau bersama Golkar, pintu kami terbuka lebar,” ucapnya.
Sontak arena Jatim Expo bergemuruh. Tepuk tangan panjang, sorakan, dan senyum para kader menciptakan atmosfer yang sulit diabaikan. Momen itu menjadi salah satu adegan paling menyita perhatian dalam pelantikan tersebut.
Dalam sambutannya, Emil Dardak menyampaikan apresiasi atas undangan dan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan partai politik dalam menyukseskan agenda nasional.
“Kita dukung dan sukseskan Asta Cita program Presiden,” ujarnya, merujuk pada pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Ia juga menyebut pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 2025 mencapai 5,33 persen sebagai bukti kerja kolektif yang harus terus dijaga melalui sinergi pusat dan daerah.
Konsolidasi Menuju Babak Baru
Pelantikan DPD II Golkar se-Jawa Timur ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi pesan politik yang kuat: Golkar tengah menyiapkan diri menghadapi babak baru kontestasi nasional.
Dengan sejarah panjang, struktur yang diperkuat hingga akar rumput, serta dukungan tokoh nasional dan daerah, Jawa Timur kembali diposisikan sebagai kunci.
Dari Surabaya, pesan itu bergema: kuasai Jawa Timur, dan sejarah baru siap ditulis.
Penulis: Alisugiono












