Bojonegoro, Batara.news — Pemasangan portal di jalan akses menuju Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora (TBB) yang menghubungkan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah kembali menjadi sorotan tajam warga.
Langkah yang dinyatakan sebagai upaya untuk “menyesuaikan dengan Jalan Kelas III demi keamanan dan kenyamanan pengguna jalan” dianggap publik belum menjawab akar persoalan perencanaan dan kualitas infrastruktur, dan justru terasa seperti solusi kosmetik semata.
Pemkab Bojonegoro + 1
Pemasangan portal dengan spesifikasi tinggi sekitar 2,8 meter dan lebar 2,3 meter dipantau langsung oleh Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, bersama sejumlah instansi terkait.
Portal ini diposisikan sekitar 200 meter sebelum jembatan sebagai alat pengendali agar kendaraan berat tidak melintas,
karena ruas jalan tersebut secara teknis hanya diperuntukkan bagi kendaraan ringan dengan standar muatan sumbu terberat maksimal 8 ton sesuai klasifikasi Jalan Kelas III.
Pemkab Bojonegoro
Namun sejumlah warga mempertanyakan: apakah portal itu benar-benar solusi perencanaan yang matang, atau sekadar “pajangan” yang cantik dipandang tetapi tidak menyelesaikan masalah mendasar?
Kritik ini bukan tanpa dasar. Selama ini isu kendaraan bertonase besar yang melintas bukan hanya problem teknis semata, melainkan merupakan cerminan lemahnya pengendalian arus lalu lintas, minimnya rute alternatif yang layak, dan kurangnya penegakan aturan yang konsisten.
Lebih jauh, masyarakat bertanya:
Apakah ada studi kelayakan dan survei lalu lintas yang benar-benar mendalam sebelum portal dipasang?
Bagaimana pemerintah memastikan bahwa portal itu bukan sekadar hambatan parsial tetapi benar-benar efektif dalam jangka panjang?
Apakah kualitas material serta struktur jalan dan jembatan sudah diuji laik fungsi sesuai standar teknis nasional?
Portal memang bisa menjadi alat pengendali, tetapi ketika masalah perencanaan, pemeliharaan infrastruktur dasar, serta penataan rute logistik tidak dituntaskan, portal hanya menjadi simbol tanpa makna.
Warga pun mempertanyakan apakah keberadaan portal ini hanya sebatas “pajangan bunga” – indah dilihat tetapi sulit dimanfaatkan secara efektif, dibandingkan dengan perencanaan transportasi yang komprehensif dan berkualitas.
Tuntutan masyarakat jelas: bukan sekadar pemasangan portal, tetapi keterbukaan perencanaan teknis, audit kualitas jalan/jembatan, serta solusi nyata untuk menjaga keselamatan dan fungsi jalan yang lebih berkelanjutan.
Penulis:Alisugiono.












