Angin Tak Pernah Janji...

Angin Tak Pernah Janji, Rumah Warga Jadi Korban: Puting Beliung Bongkar Rapuhnya Perlindungan

Ukuran Teks:

BOJONEGOROBatara.news ||

Alam kembali menunjukkan kuasanya—singkat, brutal, dan tanpa aba-aba. Dalam hitungan menit, hujan deras disertai angin puting beliung menyapu Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jumat sore (23/1/2026).

Atap beterbangan, pohon tumbang, dan sedikitnya 17 rumah warga rusak. Angka itu bukan sekadar statistik bencana, melainkan potret telanjang betapa rapuhnya ruang hidup warga ketika cuaca ekstrem datang tanpa kompromi.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 15.30 WIB, menghantam Desa Gading dan Desa Bakalan. Angin tak hanya merobek genting, tetapi juga mengoyak rasa aman—menyisakan puing, kepanikan, dan satu pertanyaan lama yang terus berulang: sejauh mana kesiapsiagaan benar-benar disiapkan, bukan sekadar diumumkan?

Camat Tambakrejo, Kasmari, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut hujan lebat disertai angin puting beliung sebagai penyebab utama kerusakan.

“Benar, hujan disertai angin puting beliung menerjang Desa Gading dan Desa Bakalan sekitar pukul 15.30 WIB. Sejumlah rumah warga terdampak,” ujarnya.

Di Desa Gading, tercatat 12 rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang, terutama pada bagian atap dan teras. Sejumlah rumah tertimpa pohon roboh—penanda bahwa bencana bukan semata soal cuaca, melainkan juga tentang lingkungan yang lama dibiarkan rapuh dan tak tertata.

Penanganan awal dibantu Damkarmat Pos Ngambon.

Sementara itu, di Desa Bakalan, tepatnya Dusun Benet, 5 rumah warga terdampak dengan tingkat kerusakan cukup parah.

Tiga rumah milik Gubrek (RT 04 RW 01) kehilangan genting hingga rontok tersapu angin. Dua rumah lainnya milik Agus Budianto di RT yang sama mengalami kerusakan atap, disertai jebolnya dinding kayu di sisi kanan dan kiri—struktur yang tak kuasa melawan terjangan angin berkecepatan tinggi.

“Untuk Dusun Benet, ada lima rumah terdampak, dengan kerusakan paling parah di RT 04 RW 01,” tambah Kasmari.

Tidak ada korban jiwa. Namun ketiadaan korban bukan alasan untuk menormalkan kerusakan. BPBD Kabupaten Bojonegoro masih melakukan pendataan dan asesmen di lokasi terdampak.

Dalam penanganan kedaruratan pascakejadian, Pemerintah Desa bersama warga, dibantu Pol PP, TNI, Polri, serta Damkarmat Pos Ngambon, melakukan evakuasi pohon tumbang, asesmen kerusakan, dan penyaluran bantuan awal dari BPBD.

Imbauan kewaspadaan kembali disuarakan—sebuah kalimat yang nyaris selalu datang setelah genting beterbangan, bukan sebelum.

peringatan hadir berulang, kesiapsiagaan tertinggal jauh. Alam bergerak cepat, sementara mitigasi kerap berjalan lambat, administratif, dan reaktif.

BPBD mengingatkan bahwa wilayah Bojonegoro masih berada dalam fase cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan. Warga diminta waspada.

Pertanyaannya sederhana namun tajam: berapa kali lagi peringatan harus diulang sebelum pencegahan benar-benar bekerja?

Bencana adalah keniscayaan. Kerusakan masif adalah pilihan—atau kelalaian.

Ketika angin datang, yang terangkat bukan hanya genting, tetapi juga tabir kesiapan.

Dan dari setiap puing yang jatuh, selalu tersisa satu kontradiksi pahit: alam dituding kejam, sementara sistem enggan bercermin.

Red.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan