TUBAN— Batara.news
Proyek perkuatan tebing menggunakan bronjong di Desa Kumpulrejo, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, yang dibiayai dari PAPBD 2025, menuai sorotan tajam publik.
Dokumentasi visual yang beredar luas menunjukkan dugaan ketidaksesuaian material batu bronjong dengan spesifikasi teknis, memunculkan pertanyaan serius soal kualitas pekerjaan dan pengawasan proyek yang dibiayai uang rakyat itu. Selasa (6/1/2026).
Sorotan menguat karena di lapangan terlihat campuran batu berukuran kecil menyerupai split bercampur dengan batu lebih besar dalam anyaman kawat bronjong. Padahal, secara teknis, batu bronjong seharusnya berukuran relatif seragam agar tidak mudah keluar, bergeser, atau melemahkan struktur penahan tebing.
Menanggapi sorotan tersebut, Kepala Dinas Sumber Daya Air Kabupaten Tuban, Sayang Mulyahati Rimbawan, mengakui bahwa spesifikasi teknis telah ditetapkan secara tegas.
“Ukuran batu 15 sampai 25 sentimeter, lebar mata bronjong 10 sentimeter, volume bronjong 107 ditambah 569 meter kubik,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Ia juga menyatakan akan melakukan pengecekan lapangan dan tidak menutup kemungkinan adanya pembongkaran jika ditemukan pelanggaran spesifikasi.
“Pengawas lapangan akan cek dulu. Kalau tidak sesuai spesifikasi, ya diganti atau dibongkar sesuai spek,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengakuan bahwa dugaan ketidaksesuaian di lapangan bukan isu sepele. Publik kini menunggu apakah komitmen itu benar-benar diwujudkan atau sekadar menjadi pernyataan normatif untuk meredam sorotan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pelaksana proyek belum memberikan penjelasan resmi. Upaya konfirmasi kepada pelaksana belum mendapat respons, sementara publik mempertanyakan peran konsultan pengawas yang seharusnya memastikan mutu sejak awal, bukan setelah sorotan mencuat.
Minimnya transparansi teknis di papan proyek — yang umumnya hanya memuat nilai anggaran tanpa rincian volume, spesifikasi batu, dan standar teknis — turut memperlebar jarak antara proyek publik dan pengawasan publik.
“Kalau uangnya uang rakyat, penjelasannya juga harus ke rakyat. Jangan setelah viral baru sibuk klarifikasi,” ujar seorang warga Parengan.
Sorotan terhadap proyek bronjong Kumpulrejo menjadi pengingat bahwa proyek infrastruktur bukan sekadar soal serapan anggaran, tetapi soal keselamatan, keberlanjutan lingkungan, dan akuntabilitas.
Tanpa pengawasan ketat dan keterbukaan, proyek fisik berpotensi berubah dari solusi menjadi masalah baru di kemudian hari.
Batara.news akan terus memantau hasil pengecekan lapangan dan tindak lanjut dinas terkait, termasuk apakah benar terjadi pembongkaran atau penggantian material jika ditemukan pelanggaran spesifikasi.
Penulis: Alisugiono
