Tuban— Batara.news
Proyek perkuatan tebing menggunakan bronjong di Desa Kumpulrejo, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, disorot publik setelah beredar dokumentasi visual yang memperlihatkan dugaan ketidaksesuaian material batu yang digunakan di lapangan.selasa (6/1/2026)
Dalam foto yang beredar, terlihat campuran batu berukuran kecil menyerupai batu pecah (split) bercampur dengan batu berukuran lebih besar di dalam anyaman kawat bronjong. Secara teknis, batu pengisi bronjong umumnya berukuran relatif seragam dan lebih besar dari lubang anyaman kawat agar tidak mudah bergeser atau keluar.
Berdasarkan informasi proyek di lokasi yang di himpun pewarta,pekerjaan tersebut tercatat sebagai
Pekerjaan: Perkuatan Tebing Desa Kumpulrejo, Kecamatan Parengan
Nilai anggaran: Rp 928.449.000,00
Sumber dana: PAPBD 2025
Pelaksana: CV. Yuda Putra Perkasa
Upaya konfirmasi kepada Kepala Dinas Sumber Daya Air
Sayang Mulyahati Rimbawan
Kabupaten Tuban hingga kini belum mendapatkan penjelasan teknis yang konkret. Pihak dinas menyampaikan masih menunggu dan belum dapat memberikan keterangan.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada pihak pelaksana, Haji Ali, melalui pesan WhatsApp belum mendapatkan respons. Pesan yang dikirim hanya menunjukkan tanda centang satu.
Batara.news masih berupaya menghubungi pihak-pihak terkait, termasuk konsultan pengawas, untuk memperoleh penjelasan resmi mengenai kesesuaian material dan pelaksanaan proyek tersebut.
Sebagai penegasan, pemberitaan ini disusun berdasarkan dokumentasi visual lapangan dan upaya konfirmasi kepada pihak terkait. Semua pihak memiliki hak jawab sesuai ketentuan Undang-Undang Pers.
“Kalau Uangnya Publik, Penjelasannya Juga Harus Publik”
Sorotan terhadap proyek bronjong di Kumpulrejo memantik reaksi warga.
Sejumlah masyarakat menyatakan bukan ingin menyalahkan, tetapi meminta keterbukaan.
“Kalau memang sesuai spesifikasi ya jelaskan saja. Biar warga tenang. Ini kan pakai uang rakyat,” ujar seorang warga Parengan.
Warga lain menyoroti minimnya informasi teknis di papan proyek.
“Di papan cuma ada nilai anggaran. Tidak ada volume, ukuran bronjong, jenis batu. Padahal itu penting untuk pengawasan masyarakat,” katanya.
Ada pula yang menilai sikap diam justru memperbesar kecurigaan.
“Kalau tidak ada masalah, harusnya pejabat dan kontraktor tidak takut bicara. Diam itu yang bikin curiga,” ungkap warga lainnya.
Sebagian warga berharap aparat pengawasan internal pemerintah daerah ikut turun melakukan pengecekan agar proyek benar-benar sesuai standar teknis dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Penulis:Alisugiono.
