Kebijakan pemasangan stiker penanda penerima bantuan sosial (bansos) di rumah warga miskin di sejumlah desa di Kabupaten Bojonegoro menuai dampak sosial yang memprihatinkan.
Alih-alih sekadar menjadi instrumen pendataan dan transparansi, stiker tersebut justru memantik perundungan terhadap anak-anak penerima bantuan.
Peristiwa menyayat hati itu mencuat pada Senin (5/1/2026). Sejumlah orang tua mengaku anak mereka pulang sekolah dalam kondisi menangis, setelah menjadi bahan ejekan dan olok-olok teman sebaya.
Label “penerima bansos” yang menempel di rumah, tanpa disadari, ikut menempel pula di ingatan anak-anak lain—menjadi stigma yang dibawa hingga ke ruang kelas.
“Anak saya diejek teman-temannya, dibilang anak miskin karena rumahnya ditempeli stiker,” ujar seorang wali murid dengan suara tertahan. Ia memilih tak disebutkan namanya, khawatir dampak sosial semakin meluas.
Kebijakan stikerisasi bansos sejatinya dimaksudkan untuk memastikan bantuan tepat sasaran serta mencegah tumpang tindih data.
Namun di lapangan, pendekatan visual yang menandai kemiskinan secara terang-terangan dinilai abai terhadap aspek psikologis, terutama bagi anak-anak yang masih dalam fase rentan pembentukan identitas diri.
Koh Ahsin Aktivis sosial setempat menilai, praktik tersebut perlu dievaluasi secara serius. “Transparansi penting, tapi martabat manusia—terlebih anak-anak—tidak boleh dikorbankan. Negara seharusnya hadir melindungi, bukan tanpa sengaja membuka ruang perundungan,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah desa maupun dinas terkait di Bojonegoro mengenai dampak sosial kebijakan tersebut.
Warga berharap, ada langkah cepat dan bijak agar bantuan sosial tetap berjalan tanpa meninggalkan luka psikologis di balik stiker yang ditempel di dinding rumah.
Penulis:Alisugiono
