Bojonegoro, –Batara.news || Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-36 Perumda Air Minum Tirta Buana Bojonegoro pada 3–4 April 2026 berlangsung dalam dua nuansa yang saling melengkapi: khidmat dan reflektif di malam hari, serta semarak budaya di pagi harinya.
Rangkaian kegiatan diawali pada Jumat malam (3/4/2026) di kawasan Kayangan Api. Dalam suasana yang sarat makna spiritual, acara diisi dengan santunan anak yatim, tausiyah, serta evaluasi kinerja perusahaan. Momentum ini menjadi ruang introspeksi bagi jajaran manajemen dan seluruh pegawai dalam menakar perjalanan panjang pelayanan air bersih kepada masyarakat.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Buana, M. Khoirul Anwar, dalam pernyataannya menegaskan bahwa usia ke-36 bukan sekadar angka, melainkan tonggak untuk memperkuat komitmen.
“Kami menjadikan momentum ini sebagai refleksi untuk terus berbenah. Ke depan, Perumda Tirta Buana harus semakin profesional, adaptif, dan mampu memberikan layanan air minum yang berkualitas, merata, serta berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Bojonegoro,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa tantangan ke depan tidak ringan, terutama dalam menjaga keberlanjutan sumber air di tengah perkembangan wilayah.
Sementara itu, Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menekankan bahwa pengelolaan air bersih merupakan kebutuhan strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
“Air adalah sumber kehidupan. Karena itu, pengelolaannya harus dilakukan secara bijak, terencana, dan berkelanjutan. Pemerintah daerah mendukung penuh upaya Perumda Tirta Buana dalam meningkatkan layanan sekaligus menjaga kelestarian sumber daya air,” tegasnya.
Memasuki hari kedua, Sabtu (4/4/2026), suasana berubah menjadi lebih meriah dengan digelarnya pagelaran seni tradisional Wayang Thengul di Desa Tapelan, Kecamatan Kapas. Kegiatan ini menjadi wujud nyata pelestarian budaya lokal sekaligus sarana mempererat hubungan antara perusahaan daerah dan masyarakat.
Pagelaran yang didukung oleh PERPAMSI Jawa Timur tersebut menghadirkan cerita-cerita sarat nilai kearifan lokal—tentang kepemimpinan, tanggung jawab sosial, hingga pentingnya harmoni antara pembangunan dan budaya.
Antusiasme masyarakat tampak tinggi sejak pagi hari. Warga dari berbagai wilayah memadati lokasi pertunjukan, menjadikan acara ini tidak sekadar hiburan, tetapi juga ruang interaksi sosial yang memperkuat kebersamaan.
Ketua PERPAMSI Jawa Timur, Syamsul Hadi, menyampaikan bahwa pendekatan budaya menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan dengan masyarakat.
“Melalui budaya, pesan-pesan pembangunan bisa disampaikan dengan cara yang lebih membumi dan mudah diterima. Ini adalah langkah yang baik dan perlu terus dilestarikan,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan selama dua hari ini menjadi gambaran bahwa Perumda Air Minum Tirta Buana tidak hanya berfokus pada peningkatan layanan air minum, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap nilai sosial dan budaya.
Dari suasana khidmat di Kayangan Api hingga semarak budaya di Tapelan, peringatan HUT ke-36 ini menjadi simbol keseimbangan antara pembangunan, spiritualitas, dan kearifan lokal—sebuah pijakan penting menuju pelayanan yang lebih baik di masa mendatang.
Penulis: Alisugiono












