Bukan “Liburan ke Mana”, tapi “Bagaimana Liburannya” — Seruan Empati untuk Dunia Pendidikan di Bojonegoro

Img 20260101 Wa0176
Img 20260101 Wa0176

BOJONEGORO — Batara.news

Pasca Libur sekolah telah usai. Derap langkah kecil kembali mengisi halaman sekolah, membawa tas, seragam, dan kisah yang tak selalu seragam.

Di tengah euforia masuk sekolah pasca liburan, muncul sebuah pesan sunyi namun menggugah: empati adalah pelajaran pertama yang semestinya hadir di ruang kelas.

Seruan itu ramai diperbincangkan di media sosial dan ruang-ruang diskusi pendidikan. Intinya sederhana, namun maknanya dalam. Para guru diminta untuk tidak lagi membuka kelas dengan pertanyaan, “liburan ke mana?”, melainkan menggantinya dengan kalimat yang lebih manusiawi, “bagaimana liburannya?”

Bagi sebagian anak, liburan adalah perjalanan.

Namun bagi sebagian lainnya, liburan adalah hari-hari yang dilewati dengan bertahan.

“Tidak semua siswa memiliki privilese untuk berlibur. Ada yang menghabiskan waktu membantu orang tua, ada pula yang sekadar bertahan dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan,” ujar seorang pemerhati pendidikan di Bojonegoro, kamis(1/1/2026).

Menurutnya, pertanyaan yang keliru dapat menciptakan jarak psikologis di ruang kelas.

Ia menambahkan, sekolah sejatinya bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang aman bagi tumbuhnya empati. “Pertanyaan sederhana bisa berdampak besar.

Anak-anak yang tak punya cerita liburan kerap memilih diam, merasa berbeda, bahkan minder,” katanya.

Nada serupa disampaikan oleh salah satu guru sekolah dasar Madrasah Ibtidaiyah di wilayah Bojonegoro.

Secara tidak langsung ia mengakui, kebiasaan bertanya soal tujuan liburan kerap dilakukan tanpa disadari. “Padahal yang lebih penting adalah bagaimana kondisi batin anak setelah libur panjang.

Apakah mereka bahagia, lelah, atau justru membawa beban dari rumah,” tuturnya.

Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, liburan bukan selalu tentang rekreasi. Bagi banyak keluarga, libur sekolah berarti tambahan tantangan: biaya makan, kebutuhan harian, dan ketidakpastian esok hari.

“Jangankan untuk berlibur, untuk makan besok saja belum tentu,” bunyi penggalan pesan yang kini banyak dibagikan warganet—sebuah kalimat singkat yang memotret realitas dengan jujur dan getir.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak boleh abai pada konteks sosial.

Guru bukan sekadar pengajar mata pelajaran, melainkan penjaga rasa aman di kelas. Dari satu pertanyaan yang tepat, anak-anak bisa merasa diterima, setara, dan dihargai.

Karena di sekolah, pelajaran pertama bukanlah matematika atau bahasa.

Melainkan kemanusiaan.

Penulis:Alisugiono.